Spongebob Episode RED MIST (Don’t Watch!!!)

Sebenarnya sih, aku nggak mau memposting artikel ini. Tapi mau gimana lagi? Blogku udah lama ndak terisi dan baru-baru ini aku mendapatkan panggilan hati ‘tuk menulis ini (lebayyy).

Spongebob Squarepants, ya siapa yang tidak tahu kartun yang satu ini, dari cerita nya yang lucu dan juga aksi para karakter nya yang kadang lucu tapi terkesan spontan, namun tahukah anda bahwa ada 1 episode dari spongebob squarepants yang dilarang tayang oleh nickelodeon?
Episode ini banyak dibahas karena di situs spongefan.wikia.com, episode ini disebutkan di web nya, namun deskripsi tentang episode ini sudah dihapus oleh Nickelodeon, sebenarnya Episode ini bukanlah episode resmi, melainkan sebuah fanfict (buatan fans). Namun, yang jadi masalah adalah, sang pembuat fanfict ini ternyata diketahui adalah seorang Pembunuh berantai yang memang dicari-cari polisi di Skotlandia.
Pihak kepolisian pun mencari-cari orang itu dan ditemukan sebuah tape bertuliskan Red Mist. Setelah mengetahuinya, pihak Nickelodeon pun segera melakukan pencarian dan penghapusan video ini, karena sudah menyebar di dunia maya dan dianggap dapat mempengaruhi mental orang yang menonton nya.
Sampai mempengaruhi mental? iya, karena suasana yang ditampilkan Red Mist sama seperti lagu Gloomy Sunday, dimana jika kita mendengar lagu itu, dapat mempengaruhi kondisi psikis tubuh kita dan bahkan dapat membuat kita melakukan bunuh diri. Red Mist juga sama, dimana suasana yang ditampilkan merupakan suasana traumatic gore berkat efek video nya yang dapat mempengaruhi otak dan kejiwaan kita.
Terus bagaimana cerita Red Mist?

Lanjut membaca

50 Hal Teraneh!!!

1. Queue adalah satu-satunya kata dalam bahasa Inggris yang dapat dibaca dengan cara yang sama ketika empat huruf terakhir dihilangkan.

2. Kumbang tu rasanya seperti apel, tawon seperti pine nuts (sejenis kacang), kalo cacing seperti daging babi goreng.

3. Dari seluruh kata dalam bahasa Inggris, kata ’set’ punya definisi paling banyak.

4. “French Kiss” kalo di Perancis namanya “English Kiss”

5. “Almost” adalah kata terpanjang dalam bahasa Inggris yang disusun mengikuti urutan Alfabet.

6. “Rhythm” adalah kata terpanjang dalam bahasa Inggris yang tidak ada huruf vokalnya

7. Tahun 1386, seekor babi dihukum gantung di depan publik di Perancis gara2 membunuh anak kecil

8. Kecoa bisa hidup selama beberapa minggu tanpa kepala

9. Tulang paha manusia lebih kuat daripada dinding semen. Lanjut membaca

Penipuan Sang Cabe

Ais, itulah panggilanku. Anak yang cukup bandel dan ceroboh. Aku adalah cabe lover, terutama kalau dibuat sambal. Sampai-sampai aku harus sedia obat sebelum sakit perut. Memang aku sangat bandel kalau disuruh menjauh dari yang namanya CABE. Karena, sulit bagiku untuk meninggalkan cabe yang benar-benar enak itu. Hidupku merana banget kalau nggak ada cabe (ih.. lebay deh).
Seperti pagi ini, aku sarapan dengan sayur sop plus sambal ekstra pedas. Walaupun tadi ibuku sempat mengomel gara-gara aku makan sambal pagi hari, tapi omelan itu kuanggap angin lalu saja.
Lanjut membaca

Ada suatu pulau yang bernama pulau perasaan. Di Pulau tersebut, hidupp empat orang yang bernama Cinta, Kekayaan, Kesombongan, dan Waktu.

Suatu hari, Pulau itu akan tenggelam. Semuanya sibuk menyelamatkan dirinya masing-masing dan naik ke perahu. Tetapi, hanya Cinta yang tidak beranjak pergi, karena Cinta selalu setia menanti. Namun, akhirnya Cinta hampir tenggelam, dan Cinta pun berteriak  minta tolong.

1. Cinta minta tolong pada Kekayaan, tapi perahunya telah penuh dengan semua
hartanya.

2. Cinta minta tolong pada Kesombongan, tapi Kesombongan tidak
mengijinkan Cinta, karena takut perahunya kotor.

3. Akhirnya, Cinta minta tolong pada Waktu, dan Waktu mengijinkannya.
Mengapa? Karena hanya Waktulah yang mengerti betapa besar arti cinta. Dan
Cinta sangat berharga, melebihi kekayaan dan kesombongan.

Blogku Sayang, Blogku Malang

Hai, Visitos maniak! Sudah lama, aku nggak nulis apapun di blogku. Mau nulis, tapi nggak tahu mau nulis tentang apa. So, untuk sementara blogku nggak ada tulisan terbaru selama 3 bulan. Dan sekarang aku baru nulis. He he he……

Tapi, walaupun isi blogku nggak update sama sekali, ada juga yang masih mau berkunjung dan mengomentari blogku. Alhamdulillah… Masih laris juga blogku. Sampai-sampai, banyak visitors dari luar negeri yang sempat berkunjung ke blogku (ada juga yang komentar, tapi cuma 1 orang). He he…

Sekarang mau nulis apa, ya? Mau nulis ini, idenya kurang. Mau nulis itu, informasinya masih kurang. Terus mau nulis apa?

Bagi visitor blogku yang mau ngasih ide ke aku, silahkan komentar di postingan ini ya!

Abu Nawas dan Mimpi Indah

Seorang pendeta dan seorang rahib berencana memperdayai Abu Nawas. Rencanapun disusun rapi dan mereka segera bertandang ke rumah Abu Nawas yang disambut baik oleh yang mempunyai rumah.

“Kami ingin mengajakmu melakukan pengembaraan suci, wahai Abu Nawas. Kami berharap engkau tidak keberatan dan dapat bergabung bersama kami,” ujar si Rahib sambil melirik pada kawan di sebelahnya.

“Dengan senang hati aku akan ikut, kapan rencananya?” Tanya Abu Nawas.

“Besok pagi ujar si Pendeta gembira.

“Baiklah kitabertemu di warung teh besok,” uhar Abu Nawas.

Demikianlah keesokan harinya Abu Nawas beserta dua orang yang mengajaknya ini berangkat bersama. Mereka berpakaian dengan cara yang khas. Abu Nawas dengan pakaian sufi, si Pendeta dengan baju kebesarannya, dan si Rahib dengan pakaian keagamaannya. Di tengah perjalanan mereka bertiga mulai merasa lapar.

“Hai Abu Nawas, karena kita sudah sudah lapar dan kebetulan kita tidak membawa bekal, ada baiknya engkau mengumpulkan derma untuk membeli makanan bagi kita bertiga. Kami berdua akan melakukan kebaktian,” ujar si Pendeta.

Tanpa berpikir panjang, Abu Nawas langsung beranjak pergi mencari dan mengumpulkan derma dari satu dusun ke dusun yang lain. Setelah dirasa derma yang diterima mencukupi, Abu Nawas langsung membali makanan yang cukup untuk mereka bertiga. Abu Nawaspun kembali kepada dua temannya yang tengah melakukan kebaktian.

“Mari kita bagi makanan ini sekarang juga,” ujar Abu Nawas yang memang sudah sangat lapar.

“Jangan, jangan dibuka sekarang, karena kami sedang berpuasa,” ujar sang Rahib.

“Tapi aku hanya akan mengambil bagianku saja, sedang bagian kalian terserah kalian,” ujar Abu Nawas.

“Aku tidak setuju, kita harus seiring seirama dalam berbuat apapun,” ujar si Pendeta.

“Betul aku juga tidak setuju, karena waktu makanku besok pagi,” ujar si Rahib yang ahli Yoga menimpali.

Tentu saja Abu Nawas sangat usar mendengar pernyataan kedua orang itu. Perutnya yang keroncongan memaksanya kembali memperotes.

“Bukankah aku yang kalian suruh mencari derma dan sudah kukumpulkan derma itu dan sekarang telah kubelikan makanan. Mengapa kalian tidak mengizinkan aku mengambil bagianku sendiri? Sungguh tidak masuk akal,” ujar Abu Nawas memperotes.

Namun dua orang itu tetap teguh pada pendiriannya sekalipun Abu Nawas dengan segala macam cara menjelaskan tetap saja si Rahib dan Pendeta bergeming. Hal ini membuat Abu Nawas dongkol bukan main, tapi karena dirasa tidak ada gunanya menentang dua orang yang sudah bersekongkol itu, Abu Nawaspun memilih diam.

“Bagaimana kalau kita buat perjanjian?” ujar sang pendeta tiba-tiba.

“Perjanjian apa?” Tanya Abu Nawas.

“Kita adakan lomba, siapa yang nanti malam bermimpi paling indah, maka dia berhak atas bagian makanan yang lebih banyak. Sedang yang kedua mendapat bagian lebih sedikit. Sedang yang mimpinya tidak indah mendapat bagian makanan yang paling sedikit,” ujar Pendeta dengan cerdiknya. Karena sudah dongkol dan kesal, Abu Nawas menyetujui saja perjanjian itu.

Begitu pagi sudah tiba mereka bertiga sudah bangun. Dengan sangat antusias si Rahib lalu menceritakan mimpinya.

“Luar biasa! Semalam aku bermimpi indah sekali. Aku memasuki sebuah taman yang mirip sekali dengan Nirwana. Aku merasakan suatu kenikmatan dan keindahan yang belum pernah kurasakan seumur hidupku,” ujar Rahib dengan gembiranya.

“Mimpimu sangat menakjubkan saudara Rahib, sangat menakjubkan…,” ujar si Pendeta dengan agak berlebihan.

“Mimpiku pun tak kalah indahnya,” ujar Pendeta, “Aku seolah-olah menembus ruang dan waktu. Aku menyusup ke masa silam di mana pendiri agamamu hidup. Dan sungguh sangat membahagiakan aku bertemu dengannya dan kemudian aku diberkati olehnya,” ujar sang Pendeta dengan gembiranya.

“Seperti tadi, kini giliran Rahib memuji-muji mimpi si Pendeta. Sementara Abu Nawas diam saja melihat kelakuan dua orang yang memang bersekongkol memperdayai dirinya itu.

“Hai Abu Nawas, kenapa kau diam saja. Apa mimpimu semalam, apakah seindah mimpi kami?” ujar si Rahib dan Pendeta hamper bersamaan.

Abu Nawas yang sudah tahu dirinya tengah dikerjai, hanya berujar pelan.

“Kawan-kawanku sepengembaraan. Kalian tentu mengenal Nabi Daud as. Beliau adalah Nabi yang ahli berpuasa, tadi malam aku bermimpi bertemu dan berbincang-bincang dengannya. Beliau menanyakan apakah aku berpuasa atau tidak. Karena aku belum makan dari pagi, maka aku bilang saja bahwa aku berpuasa. Tidak tahunya beliau menyuruhku berbuka karena hari sudah malam. Tentu saja aku tidak berani membantah perintah seorang Nabi. Makanya aku bangun dan langsung menghabiskan semua makanan,” ujar Abu Nawas dengan santainya.

By aisya cute Posted in Humor

Tidak Tahu

Keledai Nasrudin jatuh sakit. Maka ia meminjam seekor kuda kepada tetangganya. Kuda itu besar dan kuat serta kencang larinya. Begitu Nasrudin menaikinya, ia langsung melesat secepat kilat, sementara Nasrudin berpegangan di atasnya, ketakutan.

Nasrudin mencoba membelokkan arah kuda. Tapi sia-sia, kuda itu lari lebih kencang lagi.

Beberapa teman Nasrudin sedang bekerja di ladang ketika melihat Nasrudin melaju kencang di atas kuda. Mengira sedang ada sesuatu yang penting, mereka berteriak, “Ada apa Nasrudin? Ke mana engkau? Mengapa terburu-buru?”

Nasrudin balas berteriak, “Saya tidak tahu! Binatang ini tidak mengatakannya kepadaku!”

By aisya cute Posted in Humor

Nasrudin, Si Bijak

Pada suatu hari ada tiga orang bijak yang pergi berkeliling negeri untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang mendesak. Sampailah mereka pada suatu hari di desa Nasrudin. Orang-orang desa ini menyodorkan Nasrudin sebagai wakil orang-orang yang bijak di desa tersebut. Nasrudin dipaksa berhadapan dengan tiga orang bijak itu dan di sekeliling mereka berkumpullah orang-orang desa menonton mereka bicara.

Orang bijak pertama bertanya kepada Nasrudin, “Di mana sebenarnya pusat bumi ini?”

Nasrudin menjawab, “Tepat di bawah telapak kaki saya, saudara.”

“Bagaimana bisa saudara buktikan hal itu?” tanya orang bijak pertama tadi.

“Kalau tidak percaya,” jawab Nasrudin, “Ukur saja sendiri.”

Orang bijak yang pertama diam tak bisa menjawab.

Tiba giliran orang bijak kedua mengajukan pertanyaan. “Berapa banyak jumlah bintang yang ada di langit?”

Nasrudin menjawab, “Bintang-bintang yang ada di langit itu jumlahnya sama dengan rambut yang tumbuh di keledai saya ini.”

“Bagaimana saudara bisa membuktikan hal itu?”

Nasrudin menjawab, “Nah, kalau tidak percaya, hitung saja rambut yang ada di keledai itu, dan nanti saudara akan tahu kebenarannya.”

“Itu sih bicara goblok-goblokan,” tanya orang bijak kedua, “Bagaimana orang bisa menghitung bulu keledai.”

Nasrudin pun menjawab, “Nah, kalau saya goblok, kenapa Anda juga mengajukan pertanyaan itu, bagaimana orang bisa menghitung bintang di langit?”

Mendengar jawaban itu, si bijak kedua itu pun tidak bisa melanjutkan.

Sekarang tampillah orang bijak ketiga yang katanya paling bijak di antara mereka. Ia agak terganggu oleh kecerdikan nasrudin dan dengan ketus bertanya, “Tampaknya saudara tahu banyak mengenai keledai, tapi coba saudara katakan kepada saya berapa jumlah bulu yang ada pada ekor keledai itu.” “Saya tahu jumlahnya,” jawab Nasrudin, “Jumlah bulu yang ada pada ekor kelesai saya ini sama dengan jumlah rambut di janggut Saudara.”

“Bagaimana Anda bisa membuktikan hal itu?” tanyanya lagi. “Oh, kalau yang itu sih mudah. Begini, Saudara mencabut selembar bulu dari ekor keledai saya, dan kemudian saya mencabut sehelai rambut dari janggut saudara. Nah, kalau sama, maka apa yang saya katakan itu benar, tetapi kalau tidak, saya keliru.”

Tentu saja orang bijak yang ketiga itu tidak mau menerima cara menghitung seperti itu. Dan orang-orang desa yang mengelilingi mereka itu semakin yakin Nasrudin adalah yang terbijak di antara keempat orang tersebut.